Barongsai Kilien, Sejarah panjang bertahan di tahun tahun krusial

Pada hari selasa lalu 19 Februari 2019 saya berkesempatan untuk mengabadikan moment event tahunan Cap Go Meh di Jalan Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat.
Pertunjukan barongsai dan liong sudah kerap ditemui dalam berbagai acara. Namun, pertunjukan kilin terbilang langka ditemui di Indonesia. kali ini Kilin hadir dalam event Bogor Street Festival atau Cap Go Meh 2019 .

Barongsai Kilien yang ditampilkan pada event Bogor Street Festival atau Cap Go Meh 2019 ( Foto : Agus Rustiawandi)

Menurut sejarah Etnis Tionghoa Kilien merupakan naga satu satunya yang ada di Indonesia dan hanya ada di Kota Bogor Jawa Barat, Sejarah mencatat pada era krusial adanya pembantaian etnis Tionghoa yang terjadi pada masa Perang Jawa (1825-1830). September 1825. Pada saat itu banyak benda benda atau ornamen ornamen tionghoa termasuk barongsai di bakar dan di bumi hanguskan, namun ada yang tetap dijaga ketat dan bertahan sampai sekarang yaitu barongsai Kilein. warga Tionghoa di Bogor, PGB Bangau Putih jadi satu-satunya di Indonesia yang masih melakukan adat tradisi kilien.

 

Barongsai Kilien menjadi pusat perhatian pengunjung yang menyaksikan ( Foto : Agus Rustiawandi)

Menurut Guru Besar Gunawan Rahardja Perguruan Gerak Badan (PGB) Bangau Putih “Kilien itu dipercaya sebagai hewan tunggangan dewa yang terbuat dari 13 unsur binatang. Seperti tanduk menjangan dan sisik naga, ekor kura-kura,”. untuk prosesi keluarnya kilin dari perguruan sebelum tampil, harus melalui berbagai ritual minimal 15 hari sebelumnya. Seperti persiapan tim yang menampilkan kilin dengan berpuasa, meminta restu dari leluhur, hingga memandikannya. gerakan kilin berbeda dengan barongsai yang melompat-lompat dan gesit. Kilin akan lebih tenang mengamati. Lalu, saat menyaksikan sesuatu yang tidak tepat, ia akan bergerak cepat dan marah

Wah seneng sekali bisa menyaksikan atraksi barongsai Kilien di acara Cap Gomeh Bogor tahun 2019 mudah mudahan event ini bisa menjadi event tahunan Kementerian Pariwisata RI atau lebih dikenal dengan sebutan Calender Of Event (COE) sehingga menjadi prioritas Kemenpar untuk menjaring lebih banyak lagi wisatawan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: